Beranda » ILMU PENGETAHUAN UMUM » Analisis Sensitivitas dan Analisis Titik Impas

Analisis Sensitivitas dan Analisis Titik Impas


ANALISIS SENSITIVITAS

Penyelesaian yang optimal dari suatu masalah linier programming kadang perlu untuk menelaah lebih jauh kemungkinan-kemungkinan yang terjadi seandainya terjadi perubahan pada koefisien-koefisien di dalam model. Untuk menghindari penghitungan ulang, maka digunakan analisis sensitivitas yang pada dasarnya memanfaatkan kaidah-kaidah primal-dual metode simpleks semaksimal mungkin. Karena analisis dilakukan setelah tercapainya penyelesaian optimal, maka analisis ini disebut pula Post optimality Analysis. Jadi tujuan analisis sensitivitas adalah mengurangi perhitungan-perhitungan dan menghindari penghitungan ulang bila terjadi perubahan­perubahan satu atau beberapa koefisien model linier programming pada saat penyelesaian optimal telah tercapai.

1. Perubahan Nilai Kanan Fungsi Batasan

Perubahan nilai kanan suatu fungsi batasan menunjukkan adanya pengetatan  ataupun pelonggaran batasan tersebut.

2. Perubahan pada koefisien-koefisien pada fungsi tujuan

Perubahan pada koefisien fungsi tujuan menunjukan adanya perubahan kontribusi masing-masing produk terhadap tujuan (maximisasi laba atau minimisasi biaya). Perubahan koefisien-koefisien tersebut mempengaruhi koefisien-koefisien baris tujuan dan tentu saja mempengaruhi optimality permasalahan tersebut.

Contohnya

Fungsi baris tujuan : Z= 3X1 + 5X2

Jika kontribusi laba per unit barang X1 berubah menjadi 4 dan X2 menjadi 6 pengaruhnya pada koefisien-koefisien baris tujuan sebagai berikut:

1                                5/9 -1/3

(0, 6, 4)            0      1/3     0                = (0, 8/9, 2/3)

0 -5/18                                1/6

perubahan kontribusi laba per unit tersebut mengakibatkan laba total yang diperoleh berubah menjadi:

4(5/6)+6(5)=33 1/3

3. Perubahan pada koefisien-koefisien Teknis

Fungsi-fungsi Batasan

Perubahan-perubahan yagn dilakukan pada koefisien-koefisien teknis fungsi-fungsi tujuan akan mempengaruhi sisi-kiri daripada fungsi-fungsi batasan pada dual problem), sehigga akan mempengaruhi penyelesian optimal masalah yang bersangkutan.

Contoh :

Fungsi tujuan : Maksimumkan Z = 30X1 + 40X2 + 60X3.

Fungsi batasan :

1. 4X1 + 5X2 + 6X3  60.000

2. 4X1 + 6X2 + 8X3  75.000

3. 2X1 + 5X2 + 5X3  45.000

4.     X1, X2, X3  0

masalah dualnya adalah :

Fungsi tujuan : Minimumkan Z = 60.000Y1 + 75.000Y2 + 45.000Y3.

Fungsi batasan :

1. 4Y1 + 4Y2 + 2Y3  30

2. 5Y1 + 6Y2 + 5Y3  40

3. 6Y1 + 8Y2 + 5Y3  60

4. Y1, Y2, Y3  0
dengan tabel simpleks ketiga (optimal)

  Variabel
dasar
   Z    X1    X2    X3    X4    X5    X6      NK
        Z    1     0     5     0     0   30/4     0  562.500
       X4    0     0     2     0     1   -3/2    6/5    1.500
       X1    0     1   -5/2     0     0    5/4    -2    3.750
       X3    0     0     2     0     0   -1/2     1    7.500

Jika setelah tercapainya tahap optimal terjadi perubahan pada koefisien teknis X2 dari :

5                            3

6         menjadi     4           maka

5                            6

fungsi batasan (dual) kedua berubah menjadi :

3Y1 + 4Y2 + 6Y3  40

akibatnya nilai X2 pada baris Z (pada tabel optimal) akan berubah menjadi :

3(0) + 4(30/4) + 6(0) -40= -10

Ternyata dengan adanya perubahan koefisien teknis X2, tabel tersebut tidak optimal lagi karena ada nilai negatif pada baris tujuannya yaitu -10. Akibatnya perlu dilanjutkan sampai tahap optimal tercapai.

4. Penambahan Batasan Baru

Penambahan batasan baru akan mempengaruhi penyelesaian optimal apabila batasan tersebut aktifyaitu belum dicakup oleh batasan-batasan yang sudah ada. Apabila batasan tersebut tidak aktif maka tidak akan mempengaruhi penyelesaian optimal. Sehingga kita perlu memeriksa apakah batasan baru tersebut dipenuhi oleh jawaban optimal.Bila jawaban optimal memenuhi batasan baru,maka tidak perlu diperhatikan.Bila tidak memenuhi maka batasan baru harus dimasukkan kedalam masalah.

ANALISIS BREAK EVENT POINT(TITIK IMPAS)

PENGERTIAN ANALISIS BREAK EVENT POINT (TITIK IMPAS)

Break Event Point (BEP) sering disebut juga dengan cost  volume profit analysis.  Dapat diartikan sebagai suatu titik atau keadaan dimana perusahaan di dalam operasinya tidak memperoleh keuntungan dan tidak menderita kerugian. Dengan kata lain, pada keadaan itu keuntungan atau kerugian sama dengan nol.

Karena analisa ini diperlukan untuk mengetahui hubungan antara volume produksi, volume penjualan, harga jual, biaya produksi, biaya lainya dan juga laba atau rugi.

Dalam analisis laporan keuangan kita dapat menggunakan rumus ini untuk mengetahui :

1.Hubungan antara penujualan, biaya, dan laba

2.Struktur biaya tetap dan variable

3.Kemampuan perusahaan memberikan margin untuk menutupi biaya tetap

4.Kemampuan perusahaan dalam menekan biaya dan batas dimana perusahaan tidak mengalami laba dan rugi

Selanjutnya, dengan adanya titik impas tersebut akan membantu manajer dalam perencanaan keuangan, penjualan dan produksi, sehingga manajer dapat mengambil keputusan untuk meminimalkan kerugian, memaksimalkan keuntungan, dan melakukan prediksi keuntungan yang didarapkan melalui penentuan :

1.Harga jual persatuan

2.Produksi minimal

3.Pendesainan produk,dan lainnya

Dalam penentuan titik impas perlu diketahui terlebih dahulu hal-hal dibawah ini agar titik impas dapat ditentukan dengan tepat ,yaitu :

1.Tingkat  laba yang ingin di capai dalam suatu periode

2.Kapasitas produksi yang tersedia, atau yang mungkin dapat   di  tingkatkan

3.Besarnya biaya yang harus dikeluarkan, mencakup biaya tetap maupun biaya variable.

Manfaat Analisis Break Event Point (Titik Impas)

Analisis break event point secara umum dapat memberikan informasi kepada pimpinan, bagaimana pola hubungan antara volume penjualan, cost/biaya, dan tingkat keuntungan yang akan diperoleh pada level penjualan tertentu.

Analisis break event point dapat membantu pimpinan dalam mengambil keputusan mengenai hal-hal sebagai berikut :

a.Jumlah penjualan minimal yang harus dipertahankan agar perusahaan tidak mengalami kerugian.

b.Jumlah penjualan yang hrus dicapai untuk memperoleh keuntungan tertentu.

c.Seberapa jauhkah berkurangnya penjualan agar penjualan tidak menderita rugi.

Jenis-jenis Biaya Berdasarkan Break Even Point (Titik Impas)

1.Variabel cost (biaya variabel)

Variabel cost merupakan jenis biaya yang selalu berubah sesuai dengan perubahan volume penjualan, dimana perubahannya tercermin dalam biaya variable total.

2.Fixed cost (biaya tetap)

Fixed cost merupakan jenis biaya yang selalu tetap dan tidak terpengaruhi oleh volume penjualan melainkan dihubungkan dengan waktu (function of time)sehingga jenis biaya ini akan konstan selama periode tertentu.

3.Semi variable cost

Semi variable cost merupakan jenis biaya yang sebagian variable dan sebagian tetap, yang kadang-kadang disebut dengan semi fixed cost.

Menurut keterlibatan biaya dalam pembuatan produk :

a)Biaya bahan langsung = biaya yang timbul dari pemakaian semua bahan-bahan yang menjadi bagian dari produk jadi

b)Biaya buruh langsung = biaya yang dikeluarkan untuk pekerja yang ikut terlibat dalam kegiatan proses produksi

c)Biaya tak langsung pabrik = biaya yang terjadi di pabrik

Biaya ini terdiri dari :

-Biaya bahan tak langsung = biaya dari semua bahan-bahan yang tidak menjadi bagian suatu produk, tetapi diperlukan dalam pengolahan bahan menjadi barang. Contoh : pengelasan  pada pembuatan mobil

-Biaya buruh tak langsung = biaya yang dikeluarkan untuk pekerja yang ada di pabrik, tetapi tidak langsung dalam proses pembuatan suatu produk.

Contoh : gaji untuk pekerja bagian perawatan mesin

d)Biaya komersial = biaya tak langsung yang tidak terjadi di pabrik.

Biaya ini terdiri dari :

Biaya penjualan = pengeluaran yang dilakukan dalam rangka kegiatan penjualan suatu produk

-Biaya administrasi  = pengeluaran yang dilakukan untuk mendukung kegiatan-kegiatan pabrik

Menurut perubahan dalam volume produksi

a)Biaya tetap  : biaya yang tidak tergantung pada volume produksi

b)Biaya variable : biaya yang berubah sebanding dengan perubahan volume produksi

Pengelompokan biaya produksi

Biaya adalah semua pengeluaran yang dapat diukur dengan uang, baik yang telah, sedang maupun yang akan dikeluarkan untuk menghasilkan suatu produk.

1.Biaya historis : yaitu penentuan biaya produk dengan mengumpulkan semua biaya yang telah terjadi dan diperhitungkan setelah operasi pembuatan produk selesai

2.Biaya sebelum pembuatan : suatu cara penentuan biaya pembuatan produk sebelum produk tersebut di buat.

Biaya ini terbagi atas :

a.Biaya anggaran : berdasarkan kegiatan masa lalu dan perkiraan kegiatan pada masa yang direncanakan

b.Biaya standar : berdasakan standar-standar pelaksanaan yang telah ditetapkan sebelumnya

Biaya tetap adalah biaya tetap merupakan biaya yang secara total tidak mengalami perubahan, walaupun ada perubahan volume produksi atau penjualan (dalam batas tertentu). Contoh biaya tetap adalah seperti gaji, penyusutan aktiva tetap, bunga, sewa, atau biaya kantor dan biaya tetap lainnya.

Biaya variable adalah biaya yang secara total berubah-ubah sesuai dengan volume produksi atau penjualan. Contoh biaya variable adalah biaya bahan baku, upah buruh langsung,  dan komisi penjualan variable lainnya.

Interpretasi hasil BEP berarti mengartikan hasil penelitian berdarkan pemahaman yang untuk mengetahui hubungan antara volume produksi, volume penjualan, harga jual, biaya produksi, biaya lainnya dan juga laba atau rugi.

KELEMAHAN PENGGUNAAN BREAK EVENT POINT

1.Asumsi  yang menyebutkan harga jual konstan padahal kenyataannya harga ini kadang-kadang harus berubah sesuai dengan kekuatan permintaan dan penawaran di pasar.

2.Asumsi terhadap cost adalah penggolongan biaya dan variable juga mengandung kelemahan. Dalam keadaan tertentu untuk memenuhi volume penjualan, biaya tetap mau tidak mau harus berubah karena pembelian mesin-mesin atau peralatan baru guna meningkatkan volume produksi untuk penjualan.

3.Jenis barang yang dijual

4.Biaya tetap juga tidak selalu tetap pada berbagai kapasitas

5.Biaya variable juga tidak selalu berubah secara sejajar dengan perubahan volume penjualan.

KEGUNAAN BREAK EVENT POINT

Break event point analisis sangat bermanfaat dalam mengetahui hubungan antar cost, volume, harga, dan laba. Misalnya kita ingin mencapai laba tertentu maka kita akan dapat mengetahui berapa unit barang yang harus kita jual.

RUMUS PENGHITUNGAN BREAK EVENT POINT (BEP)

Break event point dengan cara matematis ini dibagi menjadi 2, yaitu BEP dalam rupiah dan BEP dalam jumlah atau unit.

1.BEP atau titik impas dalam unit

Rumusnya :

BEP = Biaya Tetap : ( Harga Jual Per Unit : Biaya Variabel Rata-rata )

2.BEP untuk titik impas dalam rupiah

Rumusnya :

BEP = Biaya Tetap : 1 – ( Biaya Variabel Rata-rata : Harga Jual Per Unit )

Contoh penghitungan BEP (break event point )

Anda berjualan macam –macam jus buah.Biaya tetap yang anda keluarkan adalah 250.000 rupiah. Biaya variabelnya sebesar 3.000 rupiah per unit .kemudian anda berniat menjual macam-macam jus buah tersebut dengan harga  5.000 rupiah per gelas. Maka titik impas atau BEP –nya adalah :

JAWAB :

1.BEP ( dalam unit ) = Biaya Tetap : (harga Jal Per Unit : Biaya Variabel Rata-rata)

BEP ( dalam unit ) = 250.000 : (5.000 – 3.000) =125 Unit

2.BEP (dalam rupiah ) = Biaya Tetap : 1 – (Biaya Variabel Rata-rata : Harga Jual Per Unit)

BEP ( dalam rupiah ) = 250.000 : 1 – (3.000 – 5.000) = 625.000 rupiah

Jadi anda harus berjualan jus buah sebanyak 125 gelas atau menjual sebesar 625.000 rupiah agar anda mencapai titik impas. Maksudnya adalah 125 gelas atau 625.000 rupiah tadi sudah bisa anda gunakan buat bayar semua pengeluaran usaha jus anda tanpa anda harus rugi. Dan apabila anda mampu menjual 126 gelas, berarti yang satu gelas tadilah keuntungan anda.

Sumber :

http://mikolehi.files.wordpress.com/2009/11/analisis-sensitivitas-sensitivity-analysis.ppt

http://anggitsetiadi87.blogspot.com/2011/10/analisis-titk-impas 11.html

http://www.dokterbisnis.net/2010/06/06/biasakan-menghitung-titik-impas-agar-usaha-anda-aman/

%d blogger menyukai ini: